iklan

Menulis Novel Yang Baik 2

Ketujuh, memiliki tokoh yang tidak terlalu banyak. Dalam novel, penulis pasti menciptakan karakter tokoh, masalahnya jika terlalu banyak, maka pembaca akan sulit mengingatnya dan ingatkan pembaca akan buyar, dan sudah hampir dipastikan ada beberapa tokoh yang karakternya tidak terlalu kuat. Bahkan film Lord of The Ring yang terkenal kolosal, memiliki tokoh hanya di bawah sepuluh, yang lainnya hanya penghias, datang pergi, nongol tidak bicara. ArIAIN Cirebon.JPGtinya ada porsi yang tepat jika ingin menghadirkan tokoh yang lumayan banyak.

Kedelapan, memiliki kerangka cerita yang jelas. Maksudnya, setiap penulis sudah memiliki bangunan cerita dari pertama kali hingga sampai penutup. Bahkan kalau bisa penulis sanggup untuk menceritakan pokok-pokoknya secara detil, ketika hal ini dilakukan, maka istilah mentok di tengah jalan tidak akan pernah ditemukan.

Kesembilan, jangan berpikir berhenti di tengah jalan. Ini adalah kelemahan paling mendasar yang disebabkan dari keraguan. Selesaikan dahulu gejolak cerita yang ada di kepala penulis hingga benar-benar usai sampai tanda titik. Tidak perlu berpikir bahwa cerita yang sedang dibuat biasa-biasa saja tanpa memiliki keistimewaan. Selesaikan dahulu, karena pada saat itu tulisan anda baru bisa disebut sebagai novel.

Kesepuluh, sempatkan untuk membaca kembali. Ketika membaca kembali, walaupun tulisan sendiri, tapi pasti sebagai pembaca akan menemukan beberapa titik di mana ditemukan kelemahan. Saat itulah tugas sebagai penulis untuk menggaris bawahi untuk merevisi.

Kesebelas, jangan pernah merasa bahwa novel yang sedang ditulis adalah yang terbaik. Ini merupakan sikap bunuh diri yang paling tinggi sebagai penulis novel. Dalam dunia novel, yang berfungsi sebagai raja adalah pembeli, pembaca, mereka yang akan menentukan bagus tidaknya novel yang sudah ditulis. Artinya sikap membuka diri untuk mengetahui kekurangan akan membuat karya anda dicintai pembacany.

Terakhir, jangan lelah untuk merevisi. Memang revisi lebih sulit dibanding saat membuat, namun revisi adalah kunci utama untuk meningkatkan nilai kebagusan sebuah novel. Apalagi dalam novel terdapat banyak unsur yang harus disempurnakan, plot, setting, dialog, dll. Ketika unsur plot sudah matang, belum tentu dialog dalam novel tersebut padat, begitu juga dengan beragam unsur lainnya.

oleh: Ma’mun Affany

Share and Enjoy

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also likeclose